Sedih Tak Terasa

Begitu banyak cerita yang ingin saya sampaikan, karena saya sadar tak dapat memendamnya sendiri. Kian lama rasa ini hanya membuat saya merasa tertekan. Hanya karena sebuah rasa kasihan yang terlalu membekas. Ia telah menancapkan pedangnya terlalu dalam, hingga saya tak dapat mengobatinya sendiri.

Telah lama saya memendam rasa kagum, namun entah mengapa perlahan rasa itu berubah menjadi benci hingga akhirnya mengantarkan saya pada perasaan sayang dan berubah kembali menjadi rasa benci. Sebenarnya saya bisa mengatasi rasa itu sendiri. Hanya saja, terlalu sulit untuk mengubah semua pemikiran yang telah saya tanamkan. Sudah terlalu kesal saya untuk bergemuruh di dalam hati.

Ingin sekali saya mengobrak-abrik pikiran seseorang yang telah memporak-porandakan pikiran saya. Rasanya tidak kuat untuk menahan rasa sedih yang tercipta akhir-akhir ini. Hingga sakit yang saya rasa berubah menjadi perasaan yang lebih sakit. Saya hanya bisa diam.

Sadar harus bangkit, saya mencoba menyinkronasikan pikiran dengan perasaan saya. Meski bulir-bulir sedih masih banyak terasa, itu semua sangat membekas dalam diri saya. Beberapa lama berteman dengan sakit dan terlalu merasakannya membuat saya tidak kuat jika harus menanggungnya kembali.

Hidup ini indah, saya pahami. Terlalu dalam untuk dimaknai, saya mengerti. Hanya saja, jika sebuah perasaan senang tetiba muncul dan telah terbiasa dengannya, jika perasaan itu hilang maka kita akan merasa sangat sedih. Seperti yang saya rasa.

Advertisements

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s