Suara Untuk Sahabat

Hai kawan, entah bagaimana kabarmu disaat aku menuliskan ini, aku tidak peduli. Hanya saja, yang aku pasti yakin bahwa kau akan mengingatku. Ya, karena kau adalah salah satu sahabat yang terbaik, yang kupunya saat ini. Kau adalah sahabat, teman, serta kakak untukku. Mungkin kita sudah seperti saudara. Karena hampir selalu kita bersama, bahkan untuk urusan kecil.

Aku senang berteman denganmu, kawan. Segala canda dan tawa kita lalui bersama. Tak terasa kita seperti berteman lama, seperti bersahabat dari kecil. Padahal jika aku menghitung, kita bersahabat baru sekitar tiga tahun dan ini adalah perjalanan tahun keempat kita. Namun untuk berteman, aku rasa sudah cukup lama jika dihitung dari pertama kita kenal, yaitu ini adalah jalan tahun keenam kita.

Oh ternyata, kita dua tahun berteman. Apakah dua tahun berteman itu sebentar? Aku rasa untuk ukuran kita itu tidak, kawan. Kita adalah teman di masa sekolah. Sehingga pada saat ini, jika kita sudah menghapal tentang satu sama lain adalah ukuran biasa. Iya kan, kawan? Atau kau berpikiran lain? Semenjak kita tidak berkabar, kita bukan teman? Atau maksudku, ketika kita sedang berdebat, kita bukan teman? Entahlah, aku rasa tidak demikian.

Memang aku akui bahwa kau adalah sahabat yang sesungguhnya. Bahkan apapun yang kita lalui, adalah hal yang menurutku biasa. Tetapi aku tidak tahu bagaimana menurutmu. Tentang berbagi sedih, berbagi bahagia, berbagi kabar, atau apapun itu. Kita sama-sama senang ketika membicarakan masa depan. Namun apa yang kau bayangkan tidaklah sama dengan yang aku bayangkan.

Jika bayanganmu adalah plan A, maka bayanganku adalah plan B. Yang aku ingat hanya bagaimana semangatmu yang menggebu untuk mewujudkannya. Sedangkan aku, ada ketakutan yang tak kuketahui dari mana asalnya. Bukannya aku tak setuju, tetapi aku tetap mendukungmu.

Mungkin kau tak tahu bahwa aku sedih ketika kau tidak tahu menahu tentang plan B-ku. Kau hanya mengatakan bahwa aku salah mungkin aku salah dalam mengambil langkah. Ah ya, kau tidak tahu, kawan. Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku. Kau hanya melihat dari sisi luar dan selalu semangat akan mimpi yang kau bangun dengan asumsi dariku.

Sekarang begini, ketika aku dan kau sama-sama punya mimpi, maka kita harus mewujudkannya. Aku tahu ini tidak instan, maka perlu perenanaan yang matang. Itulah gunanya ilmu. Kita ini setara, tapi berbeda. Ya, begitulah. Mungkin kau lebih suka A dan aku suka B. Sesuai dengan apa yang kita miliki, tetapi tetaplah, kita akan saling mendukung.

Kawan, kapan-kapan aku sambung lagi ketika langit sudah tidak nampak menangis. Karena saat aku mengetikkan ini, rintik hujan menemaniku dengan setianya. Tapi ya sudahlah, apapun itu. Kau tahu, kita akan bersama, kawan.

Advertisements

6 thoughts on “Suara Untuk Sahabat

  1. Betul sekali mba Dini, mimpi-mimpi kita boleh berbeda tapi tidak boleh sampai mengabaikan aspek kebersamaan di antara dua atau lebih orang yang sedang berteman. Karena seperti kata mas Alris di atas, sahabat harus saling memberi dukungan dalam meraih cita-cita.
    Salam semangat selalu dari Dompu

    • Benar, mari saling mendukung untuk melakukan kegiatan positif. 😀
      Terima kasih, semangat, dan salam dari Blora.

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s