Saya dan Cahaya Serta Panas

sumber gambar : klik gambar

Pagi ini tak seperti pagi yang biasanya. Jika biasanya mentari terang benderang di taman rumah, maka sekarang agak redup. Mungkin juga karena efek seseorang yang pergi, atau apa? Yang jelas jika dirasa-rasakan ketika ada seseorang yang pergi, cahaya itu sedikit redup tanpa sebab.

Entah hanya perasaan saja atau bagaimana, tetapi saya merasakan bahwa cahaya mentari itu setiap harinya berbeda. Ini dari penglihatan saya saja. Saya belum membuktikannya dengan bertanya kepada teman-teman lain. Jika hari senin cahaya sangat silau, maka hari selanjutnya akan berubah dan pada hari minggu, cahaya hanya akan seperti sisa dan kembali lagi cerah pada hari senin.

Banyak orang yang mengatakan bahwa panas di suatu tempat itu tidak sama dengan panas di tempat yang lain. Saya tidak berpikir begitu, meski saya merasakannya. Pikiran saya adalah, matahari hanya satu dan karena satu itulah panasnya matahari akan sama. Sedangkan untuk akan jatuh di mana panas dan cahaya tersebut, itu juga tergantung tempatnya.

Saya selalu mengatakan pada teman saya bahwa panas itu banyak penyebab dan pengaruhnya. Seperti cahaya matahari yang jatuh di hutan itu berbeda dengan cahaya matahari yang jatuh di jalan. Kalau di hutan akan dihalangi oleh pepohonan sedangkan jatuh di jalan, maka ia akan langsung menyentuh aspal.

Teman saya itu mengeluhkan tentang sebuah kota, sebut saja Semarang itu panas. Tapi itu hanya bagian lain saja. Karena jika saya menginap di tempat bulik saya, di Kota Semarang juga, saya selalu kedinginan padahal tidak pakai AC. Berarti, pengaruh tempat juga ada. Seperti ketinggian tempat dan lain sebagainya.

Berdebat adalah satu kegiatan yang bisa dikatakan tidak mudah. Karena saya sering berdebat dengan teman saya itu. Meski debat itu kini hanya tinggal kenangan, tetapi saya masih ingat beberapa materi debat kami. Sama-sama mempertahankan pendapat dan mencari-cari alasan, ya begitulah.

Untuk panas, teman saya itu selalu membanding-bandingkan dengan kota asalnya. Itu membuat saya tidak suka, bukan berarti saya tidak suka orangnya. Tetapi alasannya saja. Ya, begitulah. Dia pernah bilang bahwa dia tidak tahan di Semarang jika tak ada kipas angin. Nyatanya, setelah kipas anginnya rusak dan tidak ada penggantinya, dia bisa saja bertahan tanpa mengeluh. Nah, itu lho yang membuat saya malas menanggapi celutukan dia yang berujar panas, panas, dan panas. Dan sekarang, hanya kenangan manis saja hal tersebut.

Advertisements

7 thoughts on “Saya dan Cahaya Serta Panas

  1. Aku terlahir di kota dingin yang ada di Jawa Barat. Pada saat pertama kali menginjak Jakarta, aku sangat tersiksa dengan suasana yang panas dan tidak nyaman.
    Tapi hal itu berangsur-angsur hilang, tidak setiap hari kota yang panas akan selalu panas. Ia akan menjadi hangat ataupun dingin. Tergantung suasana hati & momen apa yang telah kita lewati.

  2. beda orang beda respon. sebab rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala nggak sama…. dalam laut bisa diukur tapi dalamnya hati siapa yang bisa menerka

    *inikomentarapasaih*

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s