Cerita Itu Lagi

Aku menutup buku dengan gusar. Baru saja aku akan mulai belajar, tetapi entah mengapa bayangan itu selalu mengganggu dan menghantui. Yang benar saja? Ini baru pukul sembilan malam. Tapi mataku sudah berat. Ditambah dengan bayang-bayang rasa bersalah yang akhir-akhir ini selalu menghantuiku. Aku gusar, dan menggeliat seenaknya di tempat tidur. Kepalaku serasa ingin pecah, ditambah dengan beban hidup yang saat ini tidak mudah untuk dilalui. Tiba-tiba aku ingat sesuatu, ya sesuatu. Entah mengapa dengan beratnya mataku ditambah dengan rasa kantuk yang sangat malah membuatku teringat sesuatu. Aku meringkuk, menenggelamkan kepalaku di tekukan kakiku, di atas kasur. “Tuhan, ini salah. Aku tahu ini salah,” ucapku frustasi.

Tiba-tiba aku sudah terbangun. Aku mengecek jam, ternyata ini pukul setengah lima pagi. Untunglah, aku tidak bangun di atas jam lima. Seperti biasa aku mulai membuka buku yang semalam aku tutup. Ini masih pagi, dan kuharap aku bisa menelaah apa yang aku pelajari. Lima menit, kemudian sepuluh menit pun berlalu. Aku merosot dan tengkurap. Mengapa bayangan itu lagi? Aku semakin tak konsen untuk belajar. Semangatku sudah luntur seketika. Bayangan itu tak hentinya mengerubungiku. Sebenarnya dari mimpi semalam, aku sudah memimpikannya hingga tidurku tak nyenyak. Padahal hari ini aku ada tes. Aku hanya pasrah saja akan bagaimana tes itu nantinya.

***

“Hei, Dar,” kata seseorang menyapaku.

“Oh, halo,” ucapku sembari tersenyum.

Kami akhirnya mengobrol hingga tak menyadari bahwa pintu ruangan telah dibuka dan sebagian orang sudah masuk ke ruangan. “You must try it,” kata Sera, teman ngobrolku sedari tadi. Aku hanya mengangguk pelan dan segera menuju bangku.

Mengapa waktu begitu cepat berlalu, padahal sepertinya aku sudah berusaha keras untuk mengerjakan tes di hari pertama ini, pendidikan pancasila dan Bahasa Indonesia. Tapi otakku serasa terorak-arik hanya karena aku kurang berhasil dalam memecahkan soal-soal yang ada. Hari sepertinya kurang berpihak kepadaku.

Tes hari ini sangat menguras pikiran. Bahkan karena semalam aku tidak belajar, beberapa materi tidak bisa kujawab dengan baik. “Dar, kamu dipanggil Bu Erga,” kata Sera. Tumben sekali Bu Erga memanggilku. Tapi ya sudahlah. Setibanya di ruang guru, aku mencari-cari Bu Erga. Guru mungil nan lucu itu adalah guru favoritku, beliau mengajar matematika. Tak bisa kubayangkan, ini deja vu. Kemudian aku harus bagaimana?

Siang itu aku terlelap, dengan perasaan yang sama dan cerita dalam mimpi yang sama. Cerita itu lagi? Dan rasa bersalah pun mulai menghantui.

Advertisements

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s