Jangan Ragu Pergi ke Pasar

 

Sering sekali saya pergi ke pasar, tapi itu dulu. Kalau sekarang sih paling hanya hari minggu atau pada hari-hari yang diperlukan saja, seperti ada keperluan mendadak. Menurut KBBI, pasar adalah tempat orang berjual beli. Hal ini juga diyakinkan dalam ilmu ekonomi yang menyebutkan bahwa pengertian pasar lebih dititik beratkan pada kegiatan jual belinya. Jika kita menganut pada ilmu ekonomi, maka pasar bisa bertempat di mana saja dan terbentuk kapan saja. Namun sekarang yang ingin saya bahas mengenai pasar tradisional. Mengapa? Karena pasar tradisional memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, baik yang di desa maupun yang ada di kota.Dulu ketika kuliah, saya sering ke pasar karena ada praktik memasak untuk beberapa mata kuliah. Tak jarang pagi-pagi sekali selepas subuh saya berangkat dan baru selesai sekitar pukul tujuh atau setengah delapan. Walau begitu, kadang ada saja barang yang kurang dan akibatnya di tengah praktik di kampus, berbelanja lagi untuk melengkapi bahan makanan haruslah dilakukan.

Di pasar tak hanya bisa ditemui bahan makanan. Saya sering berbelanja baju dan tas di pasar. Hal ini karena harganya yang mudah dijangkau. Selain itu, yang saya tahu beberapa pedagang juga membuka toko sendiri di luar pasar sehingga saya senang sekali ketika datang ke pedagang tersebut, pasti banyak pilihan karena baju yang dijual di toko dan di pasar ada yang berbeda. Sayangnya meski pedagangnya sama, harganya berbeda karena yang di toko ‘dinaikkan harganya’, ya, you know lah alasannya.

Di Blora, ada dua pasar yang terkenal, yaitu Pasar Blota Kota (gambarnya di atas) dan Pasar Rel. Disebut pasar rel karena dulunya merupakan rel kereta api. Dua pasar ini berdekatan, hanya terpisah aspal. Maksud saya kalau dari Pasar Blora Kota mau ke Pasar Rel, maka cukup tinggal menyebrang jalan saja.

Pasar Blora Kota dengan Pasar Rel itu memang sama, yaitu pasar. Hanya saja untuk berbelanja bahan makanan, saya kira orang Blora lebih suka membelinya di pasar rel karena lebih lengkap. Yang ditawarkan di sini tak hanya bahan makanan, tetapi juga makanan berat (nasi, lauk pauk, dan sayur) makanan ringan, makanan tradisional, dan buah.

Jika mengatakan tentang pasar rel, maka saya teringat pada zaman dulu saat saya masih kecil, ada pedagang yang menjual risoles enak sekali. Tapi tak hanya itu. Ada pula bihun jadi dan bubur. Ketiganya enak dan saya suka. Kalau tidak salah, pedagang tersebut hanya berjualan pada hari sabtu dan minggu saja. Namun sekarang, saya tidak melihatnya lagi.

Ada juga makanan selain itu yang saya gemari di pasar rel, yaitu sambal daun ketela. Ya! Ini adalah yang saya tunggu-tunggu karena sambalnya yang enak dan bikin nagih buat saya. Memang ada beberapa yang menjual sambal daun ketela, namun yang enak hanya satu, yang berjualan di dekat pedagang ayam. Tapi kini sudah tidak ada lagi, entah.

Beberapa minggu yang lalu, pertama kalinya saya melihat ada yang menjuat ‘gethuk warna-warni’ dan banyak macamnya. Entah saya yang terlalu lama merantau atau bagaimana, saya baru melihat dan langsung antusias membelinya. Dan sepertinya, saya mulai suka. Saya sempat memotret dagangannya, tapi tadi waktu saya akan upload, saya kehilangan filenya. Ya sudahlah.

Pasar tradisional itu menarik, karena dia unik. Bisa saja semua barang yang kita butuhkan tersedia di sana, bisa saja tidak. Tergantung kebutuhan kita saja. Daya tarik seseorang terhadap pasar tradisional itu berbeda. Seperti halnya orang lebih memilih ke pasar tradisional karena harganya lebih murah, atau karena bahan makanan di sana yang masih segar.

Hal yang paling utama dari pasar tradisional adalah tawar menawar, hal inilah yang akhirnya menimbulkan interaksi menarik. Kadang sampai si pembeli dikejar oleh pedagang, atau si pedadang yang enggan memberikan barang dagangannya karena harga yang diajukan pembeli terlalu rendah.

Pasar adalah tempat yang sibuk. Ya, bagaimana tidak? Ketika kita ke pasar, maka kita akan mendapati orang bersliweran menawarkan barang dagangannya. Saya sih biasanya melihat pedagang kacang panjang, celana, pisau, atau serbet dan celemek.

Saya juga ingat bahwa biasanya ada becak atau betor yang ikut masuk ke pasar untuk mengantarkan barang dagangan seorang pedagang. Kalau saya berpikir sih ya buat apa, itu hanya memenuhi pasar. Tetapi jika dilihat barang bawaannya ya kadang merasa kasihan dan berpikiran ah sudahlah.

Mantan teman SMP saya yang dulu pada kelas tujuh sebangku juga berjualan di pasar. Tepatnya adalah berjualan kerudung dan jilbab. Saya sih senang-senang saja karena saya dapat diskon kalau beli di situ, meski bukan diskon besar. Dia tak hanya berjualan di pasar karena yang saya tahu di rumahnya, dia juga membuka toko kecil-kecilan. Selain itu, ia juga menawarkan barang dagangannya melalui grup di BBM.

Yang saya lihat dari saya kecil, Pasar Blora kota itu bentuknya sama. Dan berita gembira telah muncul bahwa pasar tersebut akan direvitalisasi, rencananya tahun ini dan semoga lancar, aamiin. Karena hal ini sudah didukung oleh Gubernur Jawa Tengah sendiri.

Pasar tradisional sampai sekarang masih banyak penggemarnya. Buktinya saja masih ramai. Meski ada pasar swalayan, tetapi pasar tradisional itu memiliki peran untuk pertumbuhan ekonomi. Maka dari itu, ayo lestarikan pasar tradisional dengan pergi ke sana!

Advertisements

17 thoughts on “Jangan Ragu Pergi ke Pasar

  1. pasar tradisional perlu dilestarikan. wah sambal daun ketela itu gmn ya? pikiran saya mengatakan daun ketela dibuat “kulub”nya trus dikasih sambal. entah sambal kacang, sambal tomat, atau sambal kelapa. hehe….. butuh pencerahan nih.

    • Wah, maksudnya sambal daun tela itu daun telanya direbus dan dimakan bersama sambal. Biasanya ditambah ikan asin. 😀

  2. semoga revitalisasinya nggak memberatkan pedagangnya ya.

    pernah dulu pas masih ngantor saya ketemu pihak yang ngajak kerja sama untuk memugar pasar. dari situ saya tahu bahwa nantinya tiap los dijual sekian juta dan pedagang yang tadinya nggak punya utang mau nggak mau harus utang untuk nebus lokasi yang sebetulnya sudah dia tempati. untung nggak jadi kerja sama dengan kantor saya waktu itu. hati nurani menolak mbak. kasihan kan pedagangnya.

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s