Teknologi dan Kaum Difabel

nah!

Pada dasarnya, semua manusia itu sama. Hanya saja ada keterbatasan yang pada setiap orang itu berbeda-beda. Mungkin si A bisa melakukan sesuatu dengan mudahnya, sementara si B harus berulang kali melakukannya, atau bahkan melalui alat bantu baru bisa. Pemahaman dan dukungan masyarakat tentang penyandang cacat mungkin hanya disadari oleh beberapa, mungkin juga selebihnya baru menyadari ketika ada ‘sesuatu’. Termasuk dalam dunia teknologi yang sudah semakin berkembang pesat pada masa ini yang seharusnya semakin mudah untuk kita semua.

Belakangan ini, akses internet sepertinya sudah menjadi kebutuhan karena semakin familiar dan semua orang tahu. Atau mungkin fungsinya melebihi komunikasi? Bisa jadi, karena dari internet sendiri kita bisa mendapat banyak informasi. Saya pernah melihat di televisi berita tentang pelayanan umum untuk kaum difabel sangat kurang. Tetapi beberapa orang juga melakukan pelatihan mereka sehingga orang lain dan mereka sendiri, kaum difabel merasa terbantu. Kita harus bisa memanusiakan kaum difabel.

Setelah KPI meminta tv untuk ramah kepada kaum difabel, maka selanjutnya televisi harus bisa menjadi media yang bermanfaat, seperti menginformasikan tentang apa hal-hal yang dapat dilakukan oleh kaum difabel. Layaknya pendidikan yang juga memberi kesempatan untuk mereka mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini karena setiap warga negara berhak memperoleh akses informasi dan meningkatkan kemampuannya dalam berbagai bidang. Kita pun harus menyadari dan mengakui bahwa kaum difabel punya potensi yang luar biasa untuk mengembangkan diri.

Dari data yang diperoleh dari Kemenkes pada tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah kaum difabel di Indonesia mencapai 3,11% dari semua penduduk atau sekitar 6,7 juta jiwa. Namun jika mengacu pada WHO, maka jumlahnya mencapai 10 juta jiwa. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil, menurut saya. Namun jika dibandingkan dengan seluruh penduduk, maka angka tersebut kecil.

Kita harus menyadari bahwa alat bantu untuk kaum difabel harganya tidak cuma-cuma. Maka teknologi sekarang haruslah ramah untuk mereka. Seperti halnya ada beberapa penemuan yang bisa membuat kaum difabel menjadi produktif. Atau gadget, salah satu benda yang terdekat dengan manusia, pada zaman sekarang sudah modern, yaitu bisa melayani penggunanya hanya dengan perintah suara. Juga seperti aplikasi screen reader yang mampu mengubah tulisan yang ada menjadi suara. Hal tersebut pasti sangatlah membantu.

Teknologi pada masa sekarang ini haruslah berkorelasi positif dengan pengetahuan dan keadaan, disamping terus mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan. Karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda, terutama kebutuhan kaum difabel. Kita harus bisa saling bekerja sama. Pada saat ini, kita harus menyadari bahwa belum meratanya akses yang baik untuk kaum difabel, terutama di pedalaman.

Saat ini, beberapa operator seluler sedang berlomba-lomba untuk menghadirkan teknologi yang bernama 4G untuk dapat menjangkau seluruh wilayah. Dan ya, benar saja. Mereka mencoba untuk meratakannya. Namun, meski begitu, di wilayah desa yang jauh dari kota juga masih susah signal. Kalau sudah begini, apa masih bisa? Ya, masih bisa. Karena teknologi tak hanya terbatas pada laptop, gadget, maupun internet. Masih banyak yang lain. Buktinya, banyak kaum difabel yang sukses dan menginspirasi.

Saya teringat dulu entah tahun berapa di Blora saat ada Book Fair, menghadirkan seorang bintang tamu, yaitu salah seorang difabel asal Semarang. Acara tersebut dikemas dalam bedah buku. Buku tersebut menceritakan tentang kisah hidup sang bintang tamu. Informasinya adalah, dia tidak memiliki tangan. Namun hebatnya, beliau bisa memiliki SIM A. Ya, benar, beliau bisa menyetir mobil. Awalnya polisi tidak percaya, namun setelah dites ternyata beliau lulus dan mendapatkan sim. Kerennya, beliau juga bisa mencuci baju sendiri. Wauw!

Pernah pula saya mendengarkan puisi-puisi buatan murid SLB. Saya mendengarnya dengan senang, karena deretan kata yang mereka buat. Ada yang lucu, unik, dan indah. Semuanya bagus. Mereka dapat membuatnya dengan baik, sama seperti kita, mereka juga manusia biasa.

Kita haruslah bisa bijak dalam menyikapi perkembangan teknologi, mana yang baik buat kita itulah yang kita pakai. Semoga teknologi yang ada saat ini bermanfaat untuk kita semua, terutama kaum difabel. Diharapkan juga akses untuk kaum difabel makin dipermudah dengan akan banyak teknologi baru untuk kaum difabel.

Advertisements

32 thoughts on “Teknologi dan Kaum Difabel

  1. benar mbak, karena toh mereka nggak pernah minta terlahir dengan keterbatasan fisik/mental. kita yang terlahir lengkap ini semoga selalu bisa bersyukur dan memperlakukan mereka dengan baik.

  2. termasuk kriteria smart city ini harusnya ya mbak. jadi nggak cuma fisik kotanya saja yang hebat tapi juga kemanusiaannya. tapi untuk mencapai ke sana saya pikir yang perlu disiapkan betul adalah manusianya. mentalitas saling menerima dan menghormati seyogyanya dikembangbiakkan dari generasi ke generasi biar pada saatnya nanti semua bisa merasakan kenyamanan yang serupa.

    @diahdwiarti

  3. Adik saya kebetulan sekolah di SLB juga, bukan cuma fasilitas buat difabel yang kurang, tapi kesadaran orang ‘sempurna’ juga benar-benar kurang. Miris aja lihat mereka yang ‘normal’ tuh nyinyir sama difabel, mereka gak tau rasanya diamanahi anak difabel, jadi yaa begitu…bisanya cuma nyinyir

    @onlykharisma

    • Ya karena kita cuma bisa melihat tanpa tahu apa yang mereka rasakan. Hanya tampak luar yang kita tahu. Dan itu menyedihkan. 😦

    • Iya, memang jatahnya kecil dan kadang kurang jelas. Tapi setidaknya mereka sudah berusaha, atau kita yang berusaha untuk memperlebar layar TV? Ah, entah lah..

  4. Baru-baru ini ada Alquran Digital Braille, ada juga kursi roda elektrik yang bisa membaca perintah penggunanya, ini semua wujud perkembangan teknologi yang ramah untuk kaum disabilitas.

    • iya, bukan batas. karena sesungguhnya jika dikembangkan, bakat mereka luar biasa sekali.
      *terutama bukan hanya jadi tukang pijat, seperti yang terkenal-terkenal itu kan banyak

    • Wah, saya lupa namanya. Pas saya searching di google kebetulan juga belum nemu. apa saya yang kurang gaul jadi belum nemu? hehe. 😀

  5. Iyaa ..
    sepakat, kemajuan teknologi sekarang ini memang cukup memudahkan penyandang disabilitas. Yang lebih penting adalah kemajuan pola pikir manusia normal untuk menghargai para penyandang disabilitas.

  6. Dari referensi link di artikel di atas semakin menunjukkan bahwa ada hal menakjubkan lain dalam diri penyandang difabel yang belum tentu dimiliki oleh non-difabel. Sangat menginspirasi. 🙂

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s