Hanya Sedikit Cerita

Tak saya bayangkan bahwa pagi akan memberikan dampak yang sedikit ribet untuk saya. Seperti biasa saat bangun tidur, tenggorokan kering. Meski sebelun tidur telah minum segelas, tetap saja minum segelas setelah bangun tidur kurang mencukupi kepuasan tenggorokan saya. Dan lagi, selalu ada godaan untuk memakan bubur saja daripada nasi sepertu yang saya lalukan beberapa minggu lalu. Dibangunkan oleh sebuah sms yang berisi promo, pagi ini saya cukup baik. Tak biasanya pula ada sms yang berisi promo pagi-pagi. Sungguh tak elok. Tapi berkatnya, pagi saya menjadi sedikit lebih asyik. Dan yang lebih menyenangkan lagi, hari ini saya mendapatkan ijazah saya dan hal tersebut membuat saya lebih bersemangat.

Saya tiba di kampus sekitar pukul sembilan. Saya pikir akan mudah untuk mendapatkan ijazah karena hanya tinggal mengambil. Ternyata saya salah. Bukti pembayaran toga haruslah disertakan. Padahal buktinya entah sudah kemana punya saya. Di kos tidak ada, di rumah? Jangan tanya. Saya saja baru pindah rumah. Dan tempat untuk menyimpan barang-barang saya adalah kardus yang bergambar sama semua sehingga sulit membedakan. Sebenarnya tidak malas, hanya saja memang tidak ingat meletakkan di mana. Saya pun harus beraksi ke sana ke mari hanya untuk mencari sebuah bukti tersebut, yaitu kuitansi. Teman saya yang sudah membawa sih langsung dipersilahkan mengambil ijazah tentunya.

Berkeliling kampus untuk mendapatkan bukti. Ah, tapi lah. Dari koperasi, mencari dosen di ruang dosen hingga laboratorium belum juga saya mendapat bukti. Mengapa jadi seperti ini, batin saya. Untung saja salah seorang teman saya memberitahu bahwa dirinya juga tidak menyertakan bukti pembayaran namun dia bisa mengambil ijazah. Oh yeah? Kalau begitu tidak adil! Saya bilang saja kepada dosen bahwa orang yang saya cari untuk dimintai bukti sedang keluar. Dan akhirnya, ijazah pun berada di tangan saya. Sungguh memang perjuangan. Tetapi bukan hal yang sulit untuk melakukan hal tersebut. Dibantu dengan pertanyaan dan janji tentunya, saya bisa.

“Lagipula mengapa harus ada sistem yang ribet untuk mengambil ijazah saja,” begitu kata teman saya. “Tidak mungkin bahwa pihak kampus tidak akan memberikan ijazah,” lanjutnya. Saya pun juga kurang mengerti. Padahal memang benar-benar saya sudah bayar dana ini itu yang disebutkan oleh pihak kampus. Ya memang, saya hargai bahwa kejujuran itu sangat penting. Dan saya akui, pihak kampus tidak mau rugi. Tentu saja, dengan uang yang apalah besarnya bagi mereka, mereka bisa melakukan apa saja. Dan pertanggungjawaban itu berat, akan selalu ada. Saya mengakui bahwa saya salah. Tetapi tak mungkin juga bahwa saya seterusnya akan begini. Saya harus bisa lebih baik.

Salam,

Advertisements

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s