Kecewa yang Mengingatkan

Rasanya dingin sejak saya berada di sebuah ruang ber-AC dengan suhu di sekitaran 20 derajat celcius. Dingin sekali tangan saya, karena tidak memakai jaket. Hanya baju lengan panjang yang menurut saya masih kurang tebal untuk ukuran suhu di ruangan tersebut.

Rasanya saya sudah melakukan hal yang cukup untuk hari ini. Berangkat ke kampus, mengumpulkan foto, dan lain sebagainya sampai kembali lagi ke kost. Rasa capek yang saya alami hari ini Alhamdulillah tidak terlalu terasa.

Setelah bergerumul dengan jadwal yang membuat saya pusing bukan kepalang, saya akhirnya bisa bernapas lega karena jadwal tersebut hanyalah formalitas karena pada kenyataannya, jam sebelas sudah selesai semua jadwal saya di kampus dari jadwal sebenarnya, jam empat sore.

Sebenarnya ada sedikit perasaan kecewa ketika saya tidak menjadi panelis untuk penelitian salah satu teman saya. Awalnya saya berpikir bahwa penelitian akan tepat waktu, yakni dilaksanakan seusai sholat jumat. Nyatanya, sekitar setengah dua belas penelitian dilaksanakan dan ketika itu saya sedang berada di perpustakaan untuk melihat laporan PKL kakak kelas.

Tak ada yang mencari saya hingga ke perpustakaan. Saya yang berada di perpustakaan juga konsen saja dengan apa yang saya hadapi. Karena tak ada gangguan, saya menikmati alam perpustakaan kampus saya yang akan saya rindukan selama masa PKL saya nanti.

Setelah kenyang makan di kantin, ternyata teman saya yang mengajak saya menjadi panelis mencari saya sejak tadi. Lah, katanya mencari. Tapi dihubungi lewat hp saja tidak, boro-boro ke perpus. Tapi ya sudahlah, saya berpikir bahwa mungkin itu belum rezeki saya. Meski begitu, perasaan kurang senang bisa sedikit saya rasakan.

Kembali saat saya harus menghadapi dinginnya AC yang menggenggam hampir semua bagian tangan saya. Brr.. Akhirnya saya mencoba berdamai dengan suasana meski masih sedikit terasa dingin. Meski suhu telah dinaikkan, rasa dingin itu masih menyelimuti ujung tangan saya sampai ke lengan. Brr.

Sama seperti yang saya rasakan. Kurang lebihnya, saya masih merasa sedikit sedih karena sesuatu hal yang diinginkan tak jadi ada. Tetapi ini membawa saya sadar bahwa semua orang telah mendapatkan tempatnya masing-masing dan jatahnya masing-masing.

Allah Maha Adil, maka Dia tahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Termasuk dalam cerita saya hari ini yang mengingatkan saya ‘jangan klemar-klemer’, ‘siapa cepat dia dapat’, dan ‘jangan menunda-nunda’. Yuk, teman. Ini sudah zaman modern. Mari sama-sama sadar diri.

Salam,
^_^

Advertisements

6 thoughts on “Kecewa yang Mengingatkan

  1. Tepat banget. Jangan terlalu lalai, menundai, dan santai.

    Sukses itu, memang butuh banget kecepatan. Makanya, orang-orang yang mampu bekerja cepat, tepat dan akurat, dia akan lebih cepet untuk berhasil.

    Terus jadikan pelajaran dalam hidup. karena gagal itu awal bukan akhir. Heru Arya.

    Semangat!!!

  2. Menurutku wajarlah kalau kamu merasa kecewa, gimanapun kamu udah berusaha, jadi gak ada salahnya kan kalau berharap mendapatkan hasil yang sesuai.

    Kalaupun gak berhasil, ya seperti yang kamu bilang, semuanya sudah punya jatahnya masing-masing hehe

  3. Aku juga kecewa kalo gitu kak :’D
    Tapi emang benar kalo semua orang telah mendapatkan tempatnya masing-masing dan jatahnya masing-masing. Mungkin ini bukan jadathnya kak Dini. Sabar nunggu jatahnya ya, tetep semangat 😀

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s