Maafkan Aku, Tuhan

Hari yang cukup melelahkan, setelah kuliah pagi kemudian ujian ulang, dilanjut menunggu dosen pembimbing yang tak kunjung menampakkan sinar kemulusannya menemuiku karena masih ada yang lain. Beranjak dari kampus, akupun kembali menoleh pada Karya Tulis Ilmiah yang juga sebagai tugas akhirku. Oh, malang nian nasibnya, Aku terhenyak sesaat di pelataran kampus. Langkahku berbelok pada perpustakaan yang tak megah di dalam gedung yang sepertinya mencekam nyaliku. Berkali kukatakan bahwa, “Sudahlah, masuk saja.” Namun lengah dan lolos dari pikiranku dan akhirnya aku terbujur saat menemukan sebuah buku ajaib bernama KTI kakak kelas yang *cling cling* ternyata ada bisa sedikit membantu.

Pikiran enyah entah ke mana seperti ke negara antah berantah saat mesin waktu membawaku ke hari berikutnya, hari ketika aku harus melalui jatuh bangun untuk memperjuangkan tempat penelitian KTIku. Ah ya, terlalu banyak mutiara menetes di sini. Bukannya aku tak kuat, tapi aku terlalu tersentuh. Mereka terlalu memaksaku melakukan apa yang mereka mau. Aku bingung diantara dua pilihan. Ini bukan takdir, aku tau. Ini masih bisa diubah. Tapi waktu adalah jarum emas yang mesti berputar tepat pada tempatnya.
Aku mengerti ini bukan permainan, aku mengerti ini bukanlah produk abal-abal. Aku bahkan sudah merancang ini semua dari awal. Tapi hancur seketika saat apa yang aku rancang tidak sesuai dengan pemikiran-pemikiran lain. Entah apa yang ada di dalam benak mereka. Aku pun juga tak mengerti. Kupikir ini adalah halauan pendek sebelum aku menjenjangkan ke langkah yang selanjutnya.
Tetapi masa-masa peluhku menetes di pundak yang tak berperi. Mereka mempermainkan kisahku seolah ini adalah ular tangga. Tapi perasaanku tidak seperti itu. Hey, sadarkah mereka bahwa mereka sebenarnya sama sepertiku? Mereka pernah mengalami masa sulit ini. Apakah mereka lupa? Apakah mereka tidak sadar? Apakah kursi-kursi empuk itu membuat mereka pulas? Sedikit saja, secercah harapan itu jika ada di pelupuk mataku maka aku akan memeluk mereka erat, seerat aku menggenggam erat kasus ini. Aku yakin, bahkan aku sudah mengutarakannya di sini.
Aku tidak lelah, hanya saja aku merasa atasan mereka sudah terlalu tua untuk urusan ini. Aku sudah yakin untuk mewujudkan ini, aku tau ini bukan halangan maupun rintangan. Apalagi cobaan. Ini hanya sebuah kecerobohan kecil sehingga aku rela mengorbankan hal ini pada mereka. Maafkan aku, Tuhan.

Advertisements

2 thoughts on “Maafkan Aku, Tuhan

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s