Diantara Kalian [Part II]

Bus umum dan angkot saat ini telah melewati masa-masa jayanya sebagai sarana transportasi publik yang ramah. Jika dulu orang-orang berbondong-bondong naik bus dan angkot, maka saat ini kebalikannya. Lebih banyak ditinggalkan karena fasilitas dan pelayanannya. Semua orang pasti tahu bahwa ada pemikiran tentang adanya hubungan antara fasilitas dan pelayanan. Tapi sebenarnya terkadang kita tidak melihat hal tersebut. Bisa saja dengan fasilitas minim pelayanannya tetap memuaskan dan sebaliknya. Namun pemikiran yang tertanam pada benak kita terkadang malah fasilitas maksi dengan pelayanan memuaskan. Tidak ada salahnya pemikiran-pemikiran tersebut, karena semua tergantung pada pribadi masing-masing dan bagaimana menyikapinya.

Kembali pada permasalahan angkot dan bus umum yang kini keadaannya mengenaskan. Kita tidak pernah tahu dengan pasti, tetapi kita masih bisa menerka-nerka. Saat ini kita dapat merasakan lamanya menunggu bus umum dan angkot di suatu tempat. Entah apa yang dipikirkan oleh para supir bus. Jarak tenggang yang terlalu lama juga menyebabkan penumpang lelah sehingga sudah aras-arasen. Ini bisa dilihat dari ekspresi penumpang yang meggerutu. Terlebih jika ditambah pelayanan yang tidak maksimal, seperti antarsupir saling berteriak membuang obrolan atau waktu ngetem yang sangat panjang menyebabkan penumpang jenuh dan menggerutu. Bahkan tak jarang dari mereka yang langsung mencetuskan omongan.

Ketidaknyamanan Eksternal

Masih adanya angkot dan bus umum kurang atau bahkan tidak layak jalan yang masih beroperasi membuat penumpang jenuh dan mengomel sendiri. Terlihat dari busa kursi yang sudah keropos, besi berkarat, tirai yang menghitam, aroma tidak sedap (campur-campur).

Sering saya menemui angkot dan bus umum yang seperti ini. Kondisinya sangat menyedihkan karena kurang terawat. Saya sedih menemui keadaan seperti itu. Terlebih untuk bus umum yang sering saya naiki dari Semarang – Purwodadi – Blora yang kondisinya . . . ah sudahlah. Tapi tidak ada pilihan bus umum lain karena setiap beberapa jam sekali hanya ada satu yang berangkat.

Kemarin saya menaiki angkot. Dari samping kiri, kanan, dan depan luar memang terlihat biasa. Tetapi begitu saya masuk ke dalam, sungguh mengenaskan. Ada kaca yang retak dan hampir pecah. Ini membuat saya agak tidak nyaman ketika naik angkot. Terlebih udara panas di dalam angkot yang ditimbulkan terasa sekali.

Retakan kaca di angkot

Retakan kaca di angkot

Ketidaknyamanan Internal

Selain suhu udara yang panas, dari dalam angkot juga menyebabkan tidak nyaman jika angkotnya penuh. Kita harus berdesak-desakan, sampai harus berpangku-pangkuan untuk mendapatkan tempat duduk. Apalagi jika ada orang yang sangat menjaga dirinya, pasti sangat risih akan hal ini.

Berbda dengan bus umum, karena tersedia beberapa tempat duduk yang cukup lega. Namun sama saja ketika penumpang penuh, maka beberapa penumpang akan berdiri dan mendesak-desak yang duduk. Jika penumpang yang dinaikan ke bus tersebut sesuai maka tidak masalah. Jika tidak? Maka kita harus rela sumpek-sumpekan di dalam bus umum yang konsidinya yaa you know lah.

. . .

Bersambung . . .

[Baca Part I di sini]

Advertisements

One thought on “Diantara Kalian [Part II]

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s