Mereka, Kita

Seuntai senyum yang menggelitik hatiku beberapa waktu lalu berhasil mengecewakan sudut pandangku sebagai perlawanan untuk memujamu.

Seluruh tubuhku meluruh, memberikan perlawanan yang bisa dikatakan tak berdaya.

Namun pikiranku telah melayang bersama mereka yang pernyataan yang tak kunjung habis yang keluar dari ujung otakku dan memaksaku menjadi orang yang keras untuk menutupi kelas yang sudah aku bangun.

Kamu di sana hanya diam sambil sekali lagi, ah, ya. Tersenyum. Dan senyummu sangat khas. Tidak berubah sedikitpun sejak pertama aku mengenalmu.

Aku, kamu, dan kita. Adalah serangkaian kata yang tak bernyali tanpa nyawa. Membawa nyaman di sudut jiwa yang kacau sejak mereka membawa keamanan kita.

Mereka adalah pengacau tanpa jawaban yang mengerucut di bibir pantai. Mereka bukan bajak laut, aku tak tahu pastinya. Mungkin bajak hati. Tapi itu terlalu kejam.

Mereka adalah kalian yang tertunda. Dan kita adalah sikap mereka yang perlu direkahkan.

Karena kita adalah aku, kamu, mereka, dan kalian.

Advertisements

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s