Suddenly, it was a Daydream

Kamu berlari, berteriak kencang memanggil namaku dalam gelapnya malam-malam kita yang diselimuti oleh awan-awan perasaan bersalah. Tanpa kau pedulikan di sekeliling kita waktu mengerjap menandakan dinginnya jalan yang kita lalui ini. Dengan perasaan yang amat sangat bersalah, kamu berjalan mengelilingi waktu ketika ia sudah menampakkan jarum pendeknya jauh dari angka sebelas.

Aku diam melihatmu. Kita berada di taman berbunga yang sedang bermekaran indah di alam sastra cinta yang membahana. Mereka juga terpaku melihatmu. Sama seperti aku. Cara mereka memandangmu adalah hobi. Yang tidak dapat mereka salurkan dengan mengerucutkan kelopak-kelopaknya. Sampai malu mereka.

“Aku bebas. Aku bebas,” katamu sambil tertawa lepas ditengah guyuran hujan yang tiba-tiba jatuh.

Gelegan kepalaku seketika membuat hujan bertambah deras. Kamu terus bermain tanpa menghiraukanku. Aku tersenyum tipis tanpa mengkhawatirkan dirimu sekalipun. Kamu terlihat seperti peri bercahaya yang membuat mataku terpana. Aku tak bisa beranjak darimu. Demikian sekarang. Yang seharusnya aku bisa melindungimu. Aku membuat kesalahan : membiarkanmu dalam hujan.

Kamu tampak senang dengan hujan. Aku membiarkanmu. Tapi semua itu sirna seketika ketika ku tahu bahwa aku juga terguyur hujan. Ternyata aku diguyur air. Mereka melihatku dengan tatapan aneh dan aku segera bangkit dari tempat tidur. Thus, tadi hanya mimpi?

Advertisements

One thought on “Suddenly, it was a Daydream

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s