Fiksi dalam Otakku

Seperti batu yang mendongok ke langit, lautan yang luas itu membenamkan wajahku dihadapan sang surya. Entah mengapa jalanan batu di depanku menjadi suram seketika saat aku memandang sebuah wajah elok nan manis merangkak membayangi senyumku. Sirna sudah apa yang kusebut rindu. Semua berkembang menjadi khayalan yang tak berarti.

Aku masih terengah melihat pemandangan di sekitraku yang belum bisa aku percayai sepenuhnya hingga bisa menjadi dambaan cerita masa laluku. Mereka terlalu membuatku hilang bahkan sedikit khilaf. Kini baru aku menyadari ada sesuatu yang menyentuh dinding hatiku, dan itu bukan rasa yang mudah hilang. Itu berkelanjutan dan tak ingin lepas dariku. Entah mengapa ini bisa terjadi karena lain dan beda dari yang sebelumnya. Aku tak menyangka. Semua itu terjadi begitu saja dalam waktu yang lama karena kurasa prosesnya begitu rumit.

Aku tak ingin mengatakan bahwa aku hanya merasakan satu hal pada satu orang, namun aku memikirkannya. Bukan soal bagaimana aku bisa memikirkannya atau aku merasakannya. Yang jelas ketika aku merasa demam, maka seorang yang dekat denganku juga akan merasakan hal yang sama meski dengan kadar yang berbeda. Hal yang aneh akan selalu terjadi. Entah mengapa. Hal itu serta merta bukan menjadi tolok ukuku ketika memikirkan suatu hal. Aku hanya ingin memberi penjelasan pada diri sendiri bahwa aku adalah seorang aku yang akan dan selalu terus menjadi aku.

Di dalam mata batinku kini aku melihat kerumunan waktu yang berjalan mengejar rindu, melepas lara, dan membuyarkan luka serta melepas perasaan yang selama ini melayang. Semua hilang begitu saja dalam hitungan detik. Kini kau berdiri di hadapanku dengan semua tatapan mautmu bagaikan kucing yang mengejar tikus. Aku tidak kaget, hanya sedikit tersentak. Aku tidak sama sekali kacau, hanya sedikit berpikir. Aku sama sekali tidak merasa sepi, hanya aku ingin sendiri. Intinya aku tidak akan menghindar terhadap apapun yang akan kau lakukan.

Aku bahkan sangat mengerti keadaan yang memaksamu menindas kekerasan di depan matamu yang sangat menyakitkan hati. Namun begitu perasaan yang sebenarnya kau rasakan. Kau hanya perlu waktu untuk mengubah keadaanmu sendiri. Entah dengan menambah rerasa manis untuk menghidupkan keceriaanmu kembali, atau sekedar memberi batasan pada ruang gerakmu untuk mengekspresikan perubahan yang akan terjadi pada fase-fase berikutnya.

Molekul-molekul kecil seperti bakteri mendarat di permukaan pipiku. Aku dapat merasakan partikel lain. Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Bahkan sangat mengerti aku mengenai apa yang kau berikan. Hal tersebut seperti sebuah sel yang kau masukkan dalam diriku. Tapi aku hanya diam agar sel tersebut bisa membentuk jaringan baru untuk kemudian dia menjadi organ baruku.

Dia. Dia adalah sesuatu. Yang membuat batinku menyala. Dalam sepi. Tapi dia membakarku seperti angin yang berhembus dalam nadiku. Entah. Aku menjadi termenung lagi. Kembali menemui pembuluh darahku untuk sekedar bertanya, “Apa kabar?”

Tapi semua ini hanyalah fiksi. Fiksi terselubung yang akan selalu teringat padaku.

Advertisements

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s