Mengenang Jalanku

Berawal dari kecintaan saya terhadap jalan yang hijau dan begitu manis pada Kota Blora, saya menuliskan tentang hal ini, sebuah jalan di Blora yang dianggap paling romantis. Romantis? Ya. Romantis karena jalannya sangat indah. Saya pun juga menyimpan banyak kenangan pada jalan ini, mengingat belasan tahun saya melewati jalan tersebut hampir setiap hari karena dari Play Group sampai SMA saya selalu melewati jalan ini. Kini, saya kuliah di Semarang dan saya rindu sekali akan jalan tersebut, entah mengapa. Tak banyak perubahan pada jalan tersebut. Memang, jalannya kecil dan tidak panjang. Tapi banyak yang bisa dibuat cerita di sini. Mulai dari sekolah, sampai rumah sakit. Bahkan mungkin juga karena hanya ada satu lampu merah yang terletak pada ujung timur jalan juga menjadi hal menarik bagi jalan ini. Atau juga karena jalan ini terhitung sepi (meskipun akan ramai ketika jam-jam tertentu, jam berangkat dan pulang sekolah).

Ada sebuah jalan di Kota Blora yang paling saya senangi karena saat panas tidak begitu panas serta unik dan menarik bagi saya. Ini adalah jalan yang melahirkan berbagai kenangan bagi saya karena dari kecil saya melewatinya, bahkan hampir setiap hari saya melewatinya. Tidak lain tidak bukan alasannya karena saya sekolah di jalan ini, bahkan jalan SMA saya juga melewati jalan ini. Beribu bahkan jutaan rasa juga turut hadir mewarnai kenangan saya terhadap jalan ini, haampir semua saya ingat tentang bagaimana perasaan saya ketika bertemu dengan seorang teman di sebuah warung es degan di depan sebuah SMP, sepeda terkena guyuran salah satu pedagang, sampai bagaimana saya dan teman saya hampir jatuh ketika kami bersepeda bersebelahan. Semua kejadian tersebut berada dalam satu jalan namun pada waktu yang berbeda.

Saya tidak tahu jika pada akhirnya semasa sekolah saya akan selalu melewati jalan ini. Bermula dari Play Group saya yang terletak di jalan ini, kemudian TK, dan SD. Semua jadi dalam satu tempat. Saya sangat bahagia bersekolah di tempat tersebut. Meski terbilang dengan area yang kecil dan sarana yang bisa dibilang belum memadai, namun sekolah saya tersebut berkembang dengan cepat dan mengungguli sekolah negeri. Ya, sekolah saya memang sekolah swasta. Namun bagi saya, sekolah tersebut merupakan sekolah terbaik karena Kepala Sekolah saya menerapkan aturan yang sangat ketat sehingga tak heran, lulusannya diterima di sekolah yang baik pula. Bahkan masih teringat jelas dalam memori saya ketika TK, sore itu saya dengan eyang saya bercakap dengan pemilik sekolah yang juga kepala sekolah SD, tepat di depan sekolah. Dan jalan ini menjadi saksi bagaimana kami bercakap dengan santainya dan tertawa melepas penat.

Saya pernah mengalami kejadian tak enak di sini, saya masih ingat benar ketika akan mendaftar ke salah satu SMP. Kebiasaannya adalah kami bersepeda bersama dan membawa berkas-berkas pendaftaran dengan ditemani oleh seorang guru. Belum sampai ke tempat yang dituju, saya tidak sengaja menyerempet teman saya yang kebetulan posisinya tepat berada di sebelah saya, hanya beberapa senti dari saya, tak sampai 30 cm. Beruntung kami berdua tidak apa-apa, hanya perasaan kaget saja.

Semasa SMP, saya juga melewati jalan ini karena letak SMP saya yang juga berada satu jalan dengan SD saya, tetapi masih dekat SMPnya dibanding SDnya kalau dari rumah saya. 😀 Saya ingat benar saya memiliki kenangan yang sampai sekarang belum bisa lupa. Saat itu hari sabtu, semua sudah pulang dan sekolah perlahan sepi. Saya pun juga mengambil sepeda saya kemudian pulang. Baru sampai depan sekolah, ada yang memanggil nama saya. Kebetulan kejadian itu tepat di depan sekolah saya yang juga ada penjual es degan. Saya pun menengok dan membalasnya. Tiba-tiba, BYUR! Ban depan sepeda saya diguyur air seember oleh sang penjual degan. Saya melirik teman saya yang sedikit tersenyum karena kejadian tersebut. Kemudian saya mempercepat laju sepeda saya dan saya melihat dari kejauhan teman saya tadi sedang bercakap dengan sang penjual es degan. Saya hanya bisa geleng-geleng melihat kejadian tersebut.

Masa SMA saya juga tak kalah mengasyikkan lagi, saya melewati jalan ini lagi. Ya, jalan yang indah. 🙂 Saya pun punya pengalaman yang bagi saya AARGH banget untuk diceritakan. Saya sering ngebut dengan sepeda kesayangan saya yang sampai sekarang Alhamdulillah masih menjadi sepeda kesayangan saya. Jadi pagi itu seperti biasa saya bersepeda ke sekolah. Karena saya terbiasa ngebut, jadi saya santai saja ketika bersepeda di jalan ini sambil ngebut. Saya berhenti ketika akan menyebrang di pertigaan dekat gang sekolah (tepatnya gang = jalan belakang masuk sekolah). Ketika saya anggap aman, saya menyebrang. Tidak tahunya ada motor dari arah berlawanan yang ingin lewat. Saya sudah menyebrang dengan tenang dan pelan, tapi motornya tidak pelan yang menyebabkan saya berdiri memegangi sepeda saya, alhasil saya hampir menabrak penjual jajan yang berada tak jauh dari saya. Ah, betapa AARGHnya cerita ini. -_-

Jika Anda orang Blora, pasti Anda bisa menebak jalan mana yang saya sebutkan ini. Dengan mudah Anda bisa katakan ini adalah Jl. dr. Sutomo, karena di sini lah ada SD, SMP, dan SMA yang berdekatan. Meski SMAnya berada di jalan yang berbeda, namun tetap dekat dengan Jl. dr. Sutomo. Yah. Itulah. Jalan ini sangat menarik bagi saya.

photo1335

Jalan yang romantis bagi saya. 🙂

Sampai sekarang pun saya masih suka melewati jalan ini karena tidak macet, rimbun, dan romantis. 🙂 Saya masih ingat dulu jalannya masih agak gelap karena pohonnya sangat berjibun daunnya. Ini yang membuat saya suka. Sekarang masih tetap rimbun meskipun daunnya tidak sebanyak dulu, tetapi saya tetap suka. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Mengenang Jalanku

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s