Surat Untuk Sahabat

Hai sahabat, ini aku. Semoga kau masih ingat gaya berbahasaku ini. Bukannya aku tak mau menyebutkan nama, hanya saja aku ingin mengetahui seberapa besar daya ingatmu terhadapku.

Pertama-tama, aku ucapkan selamat kepadamu. Entah apapun yang kau lakukan itu. Semoga kau selalu selamat dan dalam lindungan-Nya, aamiin.

Ke dua. Seharusnya hal ini aku tanyakan di awal tadi, sahabat. Bagaimana kabarmu? Sungguh, aku merindukanmu. Dengan sadar aku menuliskan surat ini untukmu. Tak mungkin aku akan berdusta ataupun semacamnya untuk mengukirkan kata demi kata yang aku tulis ini.

Ke tiga. Sudah sekian lama kau ‘pergi’ dariku. Tapi aku masih sangat menyayangimu, sahabat. Aku tidak pernah sama sekali melupakanmu sebagai sahabatku, karena kau lah sahabat yang paling membekas dalam hidupku. Tak ada yang sepertimu. Sudah kucoba cari yang sepertimu, tapi kau limited edition. Sungguh, semua yang ada padamu sangat membuat diriku merindukan sosok sepertimu. Gayamu, sikapmu.

Ke empat. Aku belum juga menemuimu sampai saat ini. Terakhir kali adalah enam bulan lalu. Ketika kau ucapkan ‘selamat ulang tahun’ padaku. Sungguh, semenjak itu aku belum melihat sosokmu di depan mataku.

Ke lima. Aku ingin tahu, apakah kau juga merasakan hal yang sama padaku? Apakah kau juga merindukanku? Asal kau tahu, aku sangat menginginkan kita mengulang kembali masa-masa ketika kita bersama melewati sebuah jalan yang kita sebut jalan itu adalah jalan milik kita sendiri tanpa peduli orang lain yang lalu lalang di sekitar kita. Sungguh, aku merindukan hal ketika kita sama-sama bersepeda di jalan itu.

Ke enam. Kau adalah sahabat manis yang membukakan jalan pikiranku ketika aku sedang bercerita padamu. Walaupun aku tahu bahwa kau sering mendominasi cerita, tapi kau selalu berusaha membuatku nyaman untuk berada di dekatmu. Kau bahkan bisa memfilter semuanya, sehingga aku kagum padamu. Kau tahu di mana letak keingintahuanku.

Ke tujuh. Aku tahu kau sibuk. Dan kita sama-sama sibuk. Kesibukan itulah yang akhirnya belum mempertemukan kita. Kita hanya berkomunikasi seadanya. Lewat jejaring sosial, terkadang lewat sms. Aku mengerti bagaimana posisimu saat ini. Kau diperlukan. Bahkan sangat diperlukan. Kau hamper populer di sana. Sedangkan aku? Ya, aku populer. Tapi di kalanganku sendiri. Dan itu membuatku senang karena jika aku ingin mencarimu, maka aku tak perlu repot. Namun hanya repot untuk mencari waktu untuk hanya sekedar membuat janji untuk bertemu denganmu. Mungkin ini rumit. Tapi aku senang walaupun hanya sebentar bisa menemuimu.

Ke delapan. Sosokmu yang belum juga kujumpai hingga detik ini membuatku bertanya-tanya, apakah kau masih mengingatku dengan baik? Jujur saja. Aku agak khawatir ketika kau katakan bahwa kau jarang bisa menemui waktu untuk beristirahat. Bahkan aku tak peduli bagaimana aku menghabiskan waktu untuk menunggu balasan sms darimu ketika kita sedang asyik saling mengirim pesan. Tapi aku masih bisa jaga diri. Aku tak sepenuhnya ‘hilang’ ketika kita sedang bercakap, meski hanya visual dengan sms.

Ke sembilan. Aku masih bisa melukiskan wajahmu dalam bayangku. Apakah kau juga bisa melukiskan hal yang sama denganku? Oh. Aku tahu. Itu hanya kau dan Tuhan yang tahu. Aku hanya bisa berharap lukisan itu adalah gambaran kita. Dan tentu, ‘sedikit’ kenangan kita. Mungkin kau akan tahu betapa aku sangat bisa merias cantik cerita kita ketika kita sedang bercakap bersama.

Ke sepuluh. Aku tahu bahwa kau tahu tentangku. Dulu. Namun semenjak kita berpisah, kau sama sekali merindukan hal lain. Dan aku tahu itu. Semua tergambar dari raut wajahmu ketika bercengkrama denganku.

Ke sebelas. Masih ingatkah kau tentang cita-cita yang kita rangkai dahulu? Oh. Aku masih mengingatnya dengan baik. Aku ingat betul bagaimana kau bersemangat untuk mewujudkan itu menjadi nyata. Tapi sekali lagi, ketika aku mengingatkannya, kau pun mengelak sedikit karena kesibukanmu. Demikian seterusnya hingga kini. Aku belum mengerti mengapa. Namun aku berusaha memahami kesibukanmu dan kesibukan kita yang berbeda ini.

Ke dua belas. Lihatlah bagaimana dirimu sekarang. Aku tahu, itu berbeda dengan yang dahulu. Ya, itu lah dampak dari dewasa. Kini kau tumbuh menjadi dewasa. Aku sebagai sahabatmu ikut senang. Turut tersenyum dan tertawa bersamamu. Aku tahu bahwa kita masih bersama. Semua itu masih dapat kurasakan.

Sahabat, tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini padamu. Aku bingung bagaimana menjelaskan apa yang ingin ku maksud padamu. Bukannya tak mau, tapi aku menghargaimu sangat untuk menjelaskan itu. Aku paham dirimu, aku kenal kamu sejak dulu. Aku harap kita bisa menjadi sahabat untuk selamanya.

Dari sahabatmu.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Untuk Sahabat

Silakan berkomentar :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s